Dwi gemetar ketakutan. Di hadapannya berdiri Doni, anak kampung sebelah yang berbadan besar dan terkenal nakal. Dwi menyembunyikan tangannya di belakang badannya. Dia tidak ingin Doni mengambil mainan pesawat yang baru saja didapatnya sebagai hadiah lomba lempar bola di halaman depan Indomaret. Dwi suka sekali mainan pesawat itu. Warnanya merah hitam, dengan baling-baling kuning. Lucu banget. Dia mengorbankan uang jajannya untuk main lempar bola dua putaran demi mendapat mainan pesawat itu. Dwi sudah membayangkan akan meletakkannya di meja nakas di sebelah tempat tidurnya. Bagus banget. Pokoknya Doni tidak boleh mengambilnya.
"Mana mainannya. Aku minta."
"Nggak!" Meskipun gemetar Dwi tetap berusaha mempertahankan mainan barunya. Doni ini sungguhan besar badannya, keras suaranya, dan pukulannya terkenal kuat dan menyakitkan. Sudah banyak teman-teman Dwi yang jadi korban. Ditambah lagi Doni tidak takut untuk cari masalah dengan siapapun.
"Kamu mau aku pukul?" Doni mengancam sambil menyeringai pongah.
"Jangan Bang Don, jangan ambil. Ini mainanku"
Doni maju satu langkah. Dwi mundur satu langkah, semakin gemetar. Doni maju lagi. Dwi mundur lagi. Begitu terus sampai punggung Dwi menabrak tembok tinggi rumah Oma Mita.
"Heh anak kecil, buruan kasih mainannya!" Doni mulai mengeraskan suaranya.
Dibentak begitu Dwi jadi ingin menangis. Rasanya takut sekali. Dia takut dipukul, dia juga takut mainannya diambil. Dia melirik ke kanan dan kiri. Jalanan sepi, tidak ada orang yang lewat, padahal ini belum malam. Dwi berharap ada orang yang lewat supaya dia bisa minta perlindungan.
"Mati aku" batin Dwi. Dia sekarang menyesal karena tadi pergi ke Indomaret tanpa minta ijin Bapak. Padahal kalau dia bilang ke Bapak, pasti Bapak mau mengantarnya. Bapak kan hari ini lagi libur kerja.
Pikiran Dwi mulai kemana-mana. Terbayang badannya dipukuli Doni, mainannya diambil, dan dia tidak bisa pulang karena kesakitan. Terbayang Bapak yang bingung mencari-carinya karena hari semakin sore dan Dwi belum juga sampai di rumah.
"Bapak...tolong Pak" Dwi mulai panggil-panggil Bapak di dalam hati. Dia berharap Bapak bisa dengar dengan telepati, walaupun tidak yakin itu bisa terjadi. "Pak.... Dwi takut Pak."
"Heh anak kecil, ayo buruan kasih sini mainanmu! Aku males nunggu lama-lama. Hishhh ku pukul juga ini bocah!" Doni mulai ambil ancang-ancang untuk memukul Dwi.
Dwi langsung mengkeret. Dia berjongkok sambil memeluk melindungi mainannya. Matanya dipejamkan erat, bersiap mendapat bogeman dari Doni. "Bapak... tolong Pak" tak sadar Dwi mulai lirih memanggil-manggil Bapaknya.
"Hahahaha..... heh bocah mana bisa Bapakmu dengar suaramu yang kayak tikus kejepit itu! Gak bakalan ada yang bantuin kamu. Mainan itu punyaku!"
"Hiks" Dwi mulai terisak. Sungguh dia sangat ketakutan.
"Yah malah nangis. Dasar bocah cemen." Doni mulai meraih ke tangan Dwi buat mengambil mainan pesawat dalam pelukannya.
"Nggak boleh! Ini punyaku!" Dwi makin mengeratkan pelukannya, dan memberani-beranikan diri melawan.
"Bugh!" Punggung Dwi ditendang, dan Dwi terjatuh. "Aduh sakit" serunya.
"Bugh!" tendangan kedua.
"Bugh!" kali ini pukulan.
"Aahhh....!" Dwi berteriak. Mainannya terlepas dari tangan karena hajaran Doni sungguhan keras.
"Tolong!"
"Tolong!"
"Hah makanya jangan kelamaan!" Doni mengambil mainan Dwi.
"Hahahaha. Pesawatku baru. Asik!" Doni memegang mainan yang sudah dirampasnya dari tangan Dwi. Dia bersiap-siap pergi meninggalkan Dwi.
"Wi... Dwi..." lirih Dwi mendengar suara dari kejauhan. Badannya sudah babak belur dipukuli dan ditendangi. Bajunya kotor karena terjatuh di jalan yang ada genangan airnya.
Dwi mengangkat kepalanya sedikit. Suara Bapaknya. "Dwi..." Suara itu makin dekat. Walaupun jauh, sekarang Dwi bisa melihat Bapaknya sedang berjalan ke arahnya, masuk ke gang tempatnya dihajar Doni.
Mendengar suara itu, melihat bapaknya, Dwi mulai mengangkat badannya, berusaha berdiri. Sakit rasanya di pinggang dan punggung, tapi Dwi terus berusaha bangkit.
Doni masih disitu tidak menyadari kedatangan Bapaknya Dwi. Dia masih memandang-mandangi mainan pesawat yang dirampasnya dari Dwi.
Dwi sudah berdiri. Sambil menahan sakit di badannya Dwi berteriak, "Bang Don balikin mainanku!"
Doni hanya melirik sambil menyeringai. Dia tidak mempedulikan apapun yang dirasakan oleh Dwi.
Dwi terus berteriak, "Itu punyaku. Kalau kamu mau, kamu usaha sendiri dong!"
Bapak makin dekat, Dwi pun makin berani. "Bang Don, kembalikan!"
"Dwi? Kamu kenapa?" Bapak sampai di sebelah Dwi. Bapak kaget bukan kepalang melihat Dwi babak belur dan pakaiannya kotor dan basah.
"Bang Don pukul Dwi, Pak. Dia ambil mainan Dwi" Sekarang kepala Dwi sudah tegak. Sorot mata ketakutannya sudah hilang. Nyalinya sudah kembali. Dia tunjuk Doni yang kaget melihat Bapak Dwi ada disitu.
Bapak Dwi mulai mengalihkan pandangannya dari Dwi ke Doni. "Dia pukul kamu, Nak?"
"Kamu pukul anak saya?" Ditanya begitu Doni masih menantang, "Memangnya kenapa?" katanya.
"Jadi benar kamu pukul anak saya?" Bapak melangkah mendekat ke Doni. Bapak maju selangkah, Doni mundur selangkah. Bapak maju lagi selangkah, Doni mundur lagi selangkah. Begitu terus sampai punggung Doni menabrak tembok tinggi rumah Oma Mita.
Keadaan jadi berbalik. Doni mulai merasa takut karena Bapak Dwi badannya jauh lebih tinggi dan besar dari dia. Belum lagi suaranya yang besar, dalam, dan tegas. Seperti tidak ada yang boleh membantahnya.
"Dwi nggak mau kasih mainannya" Doni menjawab dan berkilah "Aku sudah minta baik-baik."
"Itu mainanku pak! Aku menang lomba lempar bola di Indomaret. Itu mainanku!" Sekarang Dwi berdiri di belakang bapak.
Doni mendongak karena Bapak Dwi benar-benar tinggi badannya. "Aku mau mainan itu."
"Itu punya anak saya. Dia tidak mau memberikannya, kenapa kamu memaksa? Huh?"
"Pak ayo pak ambil mainanku. Itu punyaku!"
Bapak mengulurkan tangannya. Doni sekarang mengkeret. Dia pegang mainan pesawat itu dengan dua tangannya, dan melindunginya di dada. Telapak tangan Bapak sekarang ada terbuka di depan wajah Doni, "Kembalikan!" katanya tegas.
Doni menggelengkan kepala, menolak mengembalikan mainan Dwi yang dirampasnya.
"Kembalikan!" Suara Bapak semakin tegas. Bapak memusatkan matanya pada mata Doni. Tangannya tetap terulur menunggu Doni mengembalikan mainan anaknya.
Sekarang Doni yang ketakutan. Dipandangi seperti itu oleh Bapak Dwi rasanya ngeri.
"Sekali lagi saya bilang kembalikan!"
Doni benar-benar takut. Tangan bapak Dwi sudah dekat sekali dengan badannya. Terbayang tangan itu menamparnya. Pasti sakit sekali. Akhirnya Doni menyerah. Dia taruh pesawat mainan itu di tangan Bapak Dwi. Dilihatnya Dwi yang berdiri di belakang Bapak dan memandangnya sambil menyeringai menang.
Dwi masih bersembunyi di balik punggung bapaknya, tapi tangannya sudah kembali memegang mainan pesawat yang sangat disukainya itu. Dia melihat Doni tertunduk, benar-benar ketakutan.
Tiba-tiba tangan Bapak memegang bahu Doni. Dwi sampai terkejut. Dia pikir Bapak mau pukul Doni. Doni terjengit kaget lalu mengangkat kepalanya takut-takut untuk melihat Bapak.
Kata Bapak, "Kenapa kamu mau ambil mainan anak saya? Memangnya kamu nggak bisa ikut lomba tangkap bola sendiri?" Duh nada bicara Bapak galak banget. Doni menggelengkan kepala, "Nggak punya uang Pak" Bapak menghela napas, lalu berkata "ayo kalo gitu Don, kita ke Indomaret". Dwi memandang Bapak kebingungan. Bapaknya mau apa ajak Doni ke Indomaret? "Pak, mau ngapain?" tanya Dwi.
"Ayo Dwi, kita antar Doni ke Indomaret biar dia bisa ikut lomba lempar bola sendiri. Tenang aja Don, bapak bayari" Doni terperangah mendengar ucapakan Bapak Dwi. "Ayo cepat sudah sore ini."
Doni kehilangan kata-kata. Dia sudah jahat pada Dwi, tapi sekarang Bapak Dwi malah baik sekali padanya.
-----
Malam harinya di rumah Dwi masih belum bisa mengerti dengan tindakan Bapaknya terhadap Doni. Dia pikir seharusnya Bapaknya mengamuk. Doni sudah menjahatinya lho! Tapi kenapa Bapak tidak mau memarahi Doni?
"Pak, tadi Dwi takut banget sama Doni."
"Kenapa kamu takut, Nak?"
"Doni besar pak. Dia jauh lebih tinggi dari Dwi. Trus kata teman-teman pukulan Doni sakit banget pak."
"Tapi Pak," Dwi menjeda sebentar. Dia mengerjapkan matanya memandang Bapaknya, "tadi begitu dengar suara Bapak, Dwi langsung gak takut lagi. Apalagi waktu Dwi lihat Bapak mendekat. Dwi tahu kalau Dwi aman dan selamat. Nggak akan ada yang berani menjahati Dwi karena ada Bapak di situ."
Bapak tersenyum. "Memangnya kenapa kamu jadi berani setelah ada Bapak?"
"Karena Pak, Dwi tau Bapak pasti belain Dwi. Nggak mungkin Bapak Dwi malah belain yang lain. Lagian Bapak dan badannya jauh lebih besar dari Doni. Dwi percaya sama Bapak."
Bapak tersenyum lembut sekali, "Trus kamu nggak pingin tau kenapa setelah itu Bapak malah baikin Doni?"
"Iya pak, kenapa?"
"Karena Bapak yakin kalau Doni sebenernya bukan anak jatah. Dia pasti nggak dikasih uang orangtuanya sehingga tidak punya uang ketika ingin main bersamamu."
"Nak, seringkali orang memang tidak bisa berekspresi dengan benar. Doni salah satunya. Kamu lihatkan waktu dia menang lomba lempar bola? Dia langsung baik sama kamu. Kamu jangan dendam sama Doni ya. Tangan kakimu tadi sudah diobati. Sekarang hatimu juga harus diobati. Jangan benci sama Doni ya Nak."
Sambil menatap ayahnya dengan penuh rasa sayang, Dwi mengangguk.
@Magetan di saat cuaca panas, 9 Nopember 2023
Komentar
Posting Komentar